Jumat, Juni 17, 2005

AKU BERTERIAK, MEREKA TULI

Tapak-tapak sepatu menghiasi dinding-dinding kampusku,telah berhari-hari saya berada disini. Telah hampir satu tahun. Toh, tak ada yang pernah peduli. Atau mungkin kami telah mati rasa? Kesudut atas kanan-kiri laba-laba bebas tanpa gangguan merangkai benang-benang sarangnya. Lantai-lantai marmer menelusuri lorong-lorong kelas, tangga, dan pelataran kantin, kupertanyakan pernahkah tersentuh kain basah ? Rumput-rumputyang menjulang tinggi, tak beda layaknya rumah tua tak berpenghuni, nyatanya tiap pagi hingga petang suara rih terdengar bagai hantu kampus, langkah- langkah kaki berlarian menelusurinya diantara lorong-lorong yang mungkin jika di pertanyakan ia akan berteriak . Saksi mata sejarah puluhan tahun sejak ia berdiri diantara petinggi-petinggi swiss. Beton-beton terbaik kebanggan kita dengan jaringan-jaringan listrik bawah tanahnya. Hebat! Siapa yang sangka. Dapatkah semua orang mengetahuinya, siapa yang akan mengira !? Berharap khalayak mengetahuinya dengan pandangan nyata kaca-kaca, ventilasi ruangan tak lagi terpandang jelas, titik-titik coklat setinggi hampir setengah senti debu berdirir tak tersenuh.

Bau anyir dan tak sedap tercium saat melewati lorong kecil diantara pelataran para pekerja extra yang katanya aktifis. Prihatinnya, begitu miris akankah mempertanyakan kesucian atau hati nurani yang berusaha mati. Sadar di tengah kepura-puraan dengan membohongi diri sendiri. Bukannya kami tak peduli, tapi tak mengerti . Apakah mereka yang tuli?. Suara-suara lantang telah dikoarkan dengan hati yang terus berteriak. Semangat idealis yang masih hangat dibalasnya dengan janji yang terus menguap. Umbaran kata yang membuatku mual, muak.

Ratapan rongsokan yang tersingkirkan, bertumpuk. Besi-besi tua yang merintih terus meberus di gunakan dengan kabel-kabelnya yang telah usang . Dengan hentakan dab pukulan, barulah dapat di gunakan . Maka, gambar-gambar gelombang dan nyala lampu, aliran listriknya dapat berjalan. Panggilan alam tak terlaksana, entah akan menjadi penyakit atau tidak karena sulitnya mencari tempat yang seharusbya menjadi tempatnya. Masih dengan ketuliannya, berpura-pyra tak tau atau memang tak mau tau . Aku berteriak, namun mereka tetap tuli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar