Senin, Mei 06, 2013

Bintik merah setelah demam..? Tenaaaaaaaang... ROSEOLA INFANTUM (^_^)

Beberapa hari yang lalu..hmmm.tepatnya sabtu malam minggu..hmm... tanggal 27 April.. ga ada angin ga ada hujan...ananda zaf  tiba-tiba demam tinggi....Ya ALLAH...
emang sih sehari dua hari sebelumnya selera makan anada zaf jadi menurun..tiba-tiba jadi susah makan..yang sempet membuat saya agak sedikit naik pitam..(fiuh..)..setiap kali dikasih makan, di lepeh ma dia..alhasil butuh berjam-jam ngasih makan dia. Itu juga ga ada yg masuk, karena selalu dibuang.
Dan alhasil karena saya sedikit marah, dia jadi nangis-nangis ga jelas..lama-lama ga tega juga maksa dia makan. Kepala saya rasanya mau pecah.

Malamnya setelah dia mengangis kencang, karena saya paksa makan ( ya ALLAH ampuni saya yang khilaf ). Zafina panas tinggi, awalnya saya pikir, apa karena akibat saya marah ya..???. saya tunggu sampai besok..ternyata panasnya tak turun-turn juga..malah semakin tinggi. saya juga akhirnya ijin tak masuk kerja. Walaupun panas, Alhamdulillah zafina masih tetap bisa bermain, walaupun tidak seaktif biasanya, dia jadi sering tidur, tidurnya juga gelisah, mungkin karena tidak enak dengan badannya yang panas. Coba saya cek dengan termometer, suhunya mencapai 39.4' c. wuooo..saya panik dong! tapi kok ya ALhamdulillahnya ananda zaf tenang-tenang saja, saya pikir dia akan kejang atau apa gitu. Langsung saya minumkan SANMOL penurun panas 0.6 ml. Tapi Saya masih cemas, langsung saya kompres keningnya, berharap mengurangi panasnya, melihat pengalaman sebelumnya waktu zafina panas, ternyata ampuh menurunkan. Dan sekarang saya mencobanya kembali, Alhamdulilah zafina merasa nyaman, dengan sedikit kupijit-pijit kepalanya, tidurnya jadi agak tenang dan lama. Alhamdulillah panasnya turun.

Hingga malam, ternyata panasnya naik lagi..ya ALLAH..makin cemas saya, tapi saya berusaha tetap tenang. masih berharap besok telah sembuh dan hanya panas biasa. Abinya pun agak menenangkan, dia berfikir mungkin panasnya karena mau tumbuh gigi taring. Secara cuma tinggal gigi taring saja yang belum tumbuh. Dan saya tengok memang terlihat ada gigi kecil yang muncul di gusi tempat gigi taringnya. Saya pun berharap demikian. Namun ternyata hingga pagi pun demamnya tak hilang juga. Pikiran saya sudah ke demam berdarah saja, saya jadi pobia pada nyamuk-nyamuk yang menghinggapinya. Saya khawatir karena toh beberapa hari ini nyamuk terlihat banyak dirumah dan cuaca yang tidak menentu hujan yang tiba-tiba deras. Isu-isu diluar rumah juga yang katanya lagi musin Tifus dan DB, Aduh..ya ALLAH.  Lagi-lagi saya berharap tidak demikian dengan ananda zaf. Saya tidak mau ke dokter anak lagi, saya tidak mau ananda zaf masuk rumah sakit lagi. Saya sudah cukup trauma dengan keadaan zafina beberapa bulan yang lalu yang harus mendekam di RS cukup lama, saya tidak mau lagi. saya tidak mau mengulanginya lagi! Saya tidak mau anak saya di cekoki obat-obatan lagi...kasihan dia masih terlalu kecil.

Suami sebenarnya sudah menyarankan untuk ke dokter anak, saya tetap keukeh menunggu hingga hari ketiga dan keempat. Saya tidak mau buru-buru ke dokter, pertimbangan saya juga karena saya melihata kondisi ananda zaf yang maih mau makan walo dipaksa, masih lancar minum, dan masih lancar ASI dan yang pastinya dia masih beraktifitas bermain-main walo tidak se aktif biasanya. Bagi saya ananda zaf masih bisa di tangani sendiri oleh saya. Tiap hari semenjak panas, ananda zaf saya minumkan jus jambu biji. Saya tambahkan agak lebih bawang merah dan bawang putih ke makannnya, karena saya tau bawang memilki antibiotik alami dan bawang merah sebagai penurun panas.

Saya masih mencoba untuk bersabar menunggu hingga hari berikutnya, pikir saya jika sampai empat hari ini ananda zaf tak turun-turun juga panasnya, ok, saya akan serahkan ke dokter. Masih berdoa, semoga zafina lekas reda demamnya. Menjelang malam saya pegang keningnya agak'adem', sedikit menenangkan saya. Saya berdoa, semoga bertahan hingga besok dan seterusnya. Besoknya saya periksa kondisi tubuh zafina. Alhamdulillah masih belum berubah dari semalam, demamnya tidak timbul lagi..37,4' c.  Alhamdulillah masih normal..kondisi ananda zaf pun terlihat lebih segar. Dia mulai berlari-larian lagi. Tapi saya belum begitu tenang, saya masih memantau, takut-takut nanti naik lagi. karena itulah yang saya takutkan. jika tiba-tiba panasnya turun drastis dan kemudian naik lagi, saya tau kemana saya harus membawanya pergi. Siang hari, masih aman.  Soreeeee...aman.  Malam...hingga ABi-nya pulang..Alhamdulillah aman, panasnya hilang. Alhamdulillah...,Namun ada yang aneh saat saya mengganti bajunya. Ada bercak merah banyak mengelilingi tubuhnya. Agak sedikit cemas. Tapi kemudian saya teringat, sepertinya saya pernah membaca mengenai penyakit ini, penyakit panas yang kemudian setelah turun timbul bintik merah, tapi saya lupa itu apa, ada kepikiran ke DB juga, tapi saya tidak yakin. Saya langsung searching ke internet dan saya menemukan ROSEOLA INFANTUM!
ya! itulah penyakit anak saya. itulah yang menimpa ananda zaf  ternyata beberapa hari ini. (^_^)

Dan apa itu itu ROSEOLA INFANTUM??
Roseola infantum dalah penyakit demam tinggi sekitar 39-40' celsius yang biasanya menimpa pada anak usia 6 hingga 3 tahun. Penyakit ini akibat virus herpes tipe 6 dan 7. Sang anak biasanya akan demam tinggi selama kurang lebih 3 hingga 4 hari dan setelah panasnya turun  akan diikuti dengan timbulnya bintik-bintik merah pada seluruh tubuhnya. Dan bintik-bintik merah ini akan hilang dengan sendirinya selama kurang lebih dua hari, cukup dikasih bedak saja. Kita cukup konsentrasi untuk menurunkan demam sang anak, cukup dengan memberi obat penurun panas (parasetamol).
untuk info lengkap mengenai roseola infantum bisa lihat disini

Alhamdulillah..saya pun lega..Ananda zaf akhirnya ceria lagi.

so, untuk bunda-bunda dan para ayah, jika anak demam jangan dulu panik dan langsung ke dokter karena terkadang seperti yang saya baca-baca dari keluhan beberapa ibu-ibu yang mengalami hal yang sama setelah ke dokter anak, terkadang mereka mendiagnosa penyakit tersebut adalah campak or DB, so sang anak buru-buru dikasih obat. Hiks kasihankan???.
Tunggulah hingg tiga hari dan lihat perkembangnnya..jangan sedikit-sedikit dokter...tenangggggg...tetep cool, calm, and confident.(^_^)d

Sebagai orang tua kita juga harus cerdas kan? buat anak kok coba-coba..(^_^)v


"Jangan engkau mengecam demam karena itu bisa menghapuskan dosa-dosa manusia seperti api hilangkan noda pada besi" (HR Muslim)

“Tidak ada penyakit yang menimpaku yang lebih aku sukai daripada demam, sebab demam merasuk setiap organ tubuhku, dan Allah Swt akan mengaruniakan pahala bagi setiap organ tubuh yang diserang sakit” (Abu Hurairah)

 

41 komentar:

  1. hai iasyah ternyata yg punya id cahcwilik itu kamu toh hehehee

    BalasHapus
  2. Aku dulu juga suka panik banget saat Shasaku sakit kemudian rewel dan tak mau makan. Bingung mau diapain akhirnya jadi panik sendiri.
    Aku baru tahu istilah Roseola infantum ini. Makasih ya infonya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak...saya juga kdang masih agak panik..tapi tetep waspada....kalo anak dah sakit..saya pantau terus tiap detik, menit dan jamnya..melihat perubahan yang terjadi..saya rela tidak masuk kerja sampai anak saya benar-benar sembuh-buh..

      Hapus
  3. demam di satu sisi menyiksa, tapi di sisi lain akan menjadi pengurang dosa. adil sekali ya Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup..begitulah..tapi kadang kita lupa pak..saya juga sering hilaf..dan mengeluh..

      Hapus
  4. penyebab ROSEOLA INFANTUM itu sebenarnya apa ya, namun sebaiknya apabila anak demam, segeralah bawa ke dokter, jangan mencoba untuk mendiagnosa sendiri tanpa memiliki keahlian yang cukup..., karena akibatnya bisa fatal..., kalo pun pada saat dibawa ke dokter dan ternyata hanya ROSEOLA INFANTUM , alhamdulillah, daripada terlambat ke dokter, dan ternyata benar2 kena DB :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. roseola infantum itu dari virus herpes 6 dan 7.
      justru itu, kita jangan buru2 ke dokter. biasanya kita di suruh menunggu hingga 3 hari.... jika berlanjut baru ke dokter....
      bukan mendiagnosa, tapi bersikap bijak terhadap penyakit...silahkan search di internet mengenai penanganan penyakit apda anak..atau bisa konsultasi pada dokter ahlinya.. pasti akan mengatakan hal yang sama.

      kalo baru sehari dua hari jgn buru2, keculai jika anak mengalami kejang.

      Hapus
    2. pengalaman pertama saya membuat saya trauma buru-buru ke dokter... saat ananda zaf pertama sakit, saya langsung ke dokter malam itu juga. keadaan ananda zaf masih bisa beraktifitas dan ceria walo tidak seaktif biasanya. dan taukah Apa yg terjadi? anak saya langsung di inapkan dan di suntik antibiotik yg lumayan banyak..yg terjadi anak saya makin parah!..hingga sebulan lebih merambat ke yang lain..
      akhirnya saya pindah dokter ..daaaaaaaaaaan..ternyata anak saya salah diagnosa...anak saya cuma diare biasa yang harusnya cuma dikasih laktobe. tapi oleh dokter pertama dikasih obat yg lain ..

      semoga tidak terjadi pada anak yg lainnya.

      Hapus
    3. ni saya kutipkan dari milist sebelah,, semoga tercerahkan..

      Alasan Dokter Negara Maju "Pelit" Memberikan Obat ke Anak

      Belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dr. Knol.

      "Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection." kata dokter tua itu.

      "Ha? Just wait and see?" batinku meradang.
      Ya, aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain.

      "Obat penurun panas Dok?" tanyaku lagi.
      "Actually that is not necessary if the fever below 40 C."

      Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu, aku membawa obat dari Indonesia.

      Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya bertambah. Aku kembali ke dokter. Dia tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.

      "Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok," kataku.
      Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. "Apakah dia sudah minum suatu obat?"

      Hapus
    4. Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,
      "Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja."

      Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau!

      Setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.
      "Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya. Mau 37, 38 apa 39 derajat, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!"

      Sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi secuil-secuil ilmu kudapat. Seperti orang travelling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, dua hari ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas berdiam di Berlin dan Swiss, waktu habis. Tibalah saat pulang ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama. Banyak negara dan kota di Eropa belum disambangi. Itulah kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah yang kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng, kami mengintip resep ajian senior!

      Hapus
    5. Setelah Malik sembuh, Lala, putri pertamaku sakit. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia. Batuknya tak hilang dan ingusnya masih meler. Lima hari kemudian, Lala kubawa ke huisart.

      "Just drink a lot," katanya ringan.

      "Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?" tanyaku tak puas.

      "This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik," jawabnya lagi.

      Lalu ngapain dong aku ke dokter,tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq!
      "Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak."
      Ternyata isi obat Thyme itu hanya ekstrak daun thyme dan madu.

      Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia.

      Putriku sembuh. Sebulan kemudian sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit.
      "Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya?"

      Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,"Nothing to worry. Just a viral infection."

      Hapus
    6. "Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,"

      Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. "Do you know how many times normally children get sick every year?"

      "Twelve time in a year, researcher said," katanya sambil tersenyum lebar. "Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat," sambungnya.

      Aku pulang dengan perasaan malu. Barangkali si dokter benar, aku selama ini kurang belajar.

      Setelah aku beradaptasi dengan kehidupan di Belanda, aku berinteraksi dengan internet. Aku menemukan artikel Prof. Iwan Darmansjah, ahli obat-obatan Fakultas Kedokteran UI.
      "Batuk - pilek beserta demam yang terjadi 6 - 12 bulan masih wajar.observasi menunjukkan kunjungan ke dokter terjadi 2 - 3 minggu selama bertahun-tahun."

      "Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan penanganannya, Pertama, obat diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi.

      Hapus
    7. Duuh…kemana saja aku selama ini. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho!.
      Di Belanda 'dipaksa' tak pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak, kondisi anakku jauh lebih baik. Mereka jarang sakit.

      Aku tercenung mengingat 'pengobatan rasional'. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yg kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan aku panik dan membawa ke dokter, sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional!
      Sistem kesehatan Belanda menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.

      Aku baru mengetahui ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga banyak negara termasuk Amerika Serikat,dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen tersedia di apotek dan boleh digunakan usia anak diatas 6 bulan, di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama anak demam.

      Hapus
    8. Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan. Karena kekurangan dan ketidakmampuan,penyakit anak sehari-hari, orang desa relatif 'terlindungi' dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar,cukup berduit,melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, 'memaksa' agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter 'menjual' obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.

      Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?

      Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!

      Aku sadar. Telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya 'hanya' konsultasi, memastikan diagnosa penyakit dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.

      Hapus
    9. Di Indonesia, ke dokter = dapat obat?
      Sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi.

      Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya.Kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Setidaknya, bila pasien 'bergerak', masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.

      Dikutip dari buku "Smart Patient" karya dr. Agnes Tri Harjaningrum

      Semoga mencerahkan ya bunda-bunda, saya dapetnya dari artikel suami..

      Sumber: http://ibuhamil.com/

      Hapus
  5. Kalau orangtua memang akan cenderung gelisah melihat keadaan anaknya sakit, ibu saya ketika asik demampun malah beliau yang tidak bisa tidur padahal sudah dewasa apalagi ini yang masih kecil. Hmmm,, baiklah... berhubung saya belum punya anak akan saya ingat betul-betul hingga suatu saat nanti gak grasa grusu langsung ke Dokter ^^

    BalasHapus
  6. sip, bisa berbagi pengalaman. Dalam menghadapi masalah perlu ketenangan hati. Semoga sehat selalu dan dijauhkan dari penyakit.

    BalasHapus
  7. Trims pencerahannya mba.. kmrn anakku jg demam ampe 39.4°c, ak observe ampe 3hr alhamdulillah turun demamnya. Setelah itu ada bintik2 merah buanyak d muka n badannya.. ternyata roseola toh.. hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulilah bisa membantu..coz banyaj dari kita yg belum tau bu...

      Hapus
  8. Tenng saja. Kini ada pencegah demam dan step. Namanya Gelang Step. Lihat saja di www.gelangstep.com

    BalasHapus
  9. Betul banget...cara menyikapi penykit diIndonesia memang aneh dan lebay...
    Belum lagi dengan pemerintahnya....hadeh...mungkin memang sudah zamannya.
    Berarti sekaranglah era perubahan yang di janjikan masa kejayaan itu akan datang jika semua pihak..
    Bergerak bersama memperbaiki sitem mulai dari entitas terkecil merambat, bersama memerdekakan bangsa..

    Ya beginidenganberbagi kebaikan .....
    Salam kenal... Anak ku juga baru kena penyakit yg sama... Thank's for articlenya

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih telah mampir mbah..(^_^)...

      Hapus
  10. Betul banget...cara menyikapi penykit diIndonesia memang aneh dan lebay...
    Belum lagi dengan pemerintahnya....hadeh...mungkin memang sudah zamannya.
    Berarti sekaranglah era perubahan yang di janjikan masa kejayaan itu akan datang jika semua pihak..
    Bergerak bersama memperbaiki sitem mulai dari entitas terkecil merambat, bersama memerdekakan bangsa..

    Ya beginidenganberbagi kebaikan .....
    Salam kenal... Anak ku juga baru kena penyakit yg sama... Thank's for articlenya

    BalasHapus
  11. Assalamua'laikum bunda Aisyah, saya Adinda.. perlu masukannya ni.
    Alisha (9bln pas) mengalami persis seperti anaknya bunda. Awalnya senin tubuhnya menghangat tapi masih lincah, selasa mulai naik-turun panasnya. Rabu ditambah gak mau makan sama sekali. Kamis demamnya reda, mau makan biskuit bayi, tapi muncul bercak kemerahan yang bertambah setiap harinya.
    sore tadi (sabtu) sy bawa ke dokter dg niat supaya tidak salah penanganannya. Diagnosanya campak, dikasi 2 puyer: antibiotik dan pereda merahnya. Sebaiknya ap yg saya lakukan y bun?
    Baca artikel bunda jadi terpikir kemungkinan alisha kena roseola bukan campak.. Alhamdulillah-nya alisha masi agak aktif dan sudah tidak demam.. makan sudah mau sedikit-sedikit, minum air lebih semangat.

    terima kasih sebelumnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf ya bunda adinda..saya lama tidak lihat blog....aduuuuh..semoga ananda alisha baik baik saja ya bun....kalo lebih dari tiga hari masih sama..ada baiknya tetap konsultasi ke dokter bun..

      semoga ananda alisha sehat selalu..aamiin

      Hapus
  12. Ya alloh untung nemu ini..sekarang anak saya jg lg demam.demam 3 hari terus timbul bintik merah hampir diseluruh tubuh.tp setelah 2 hr gk demam kok sekarang demam lg..apa tidak apa2 ya?
    Bintik merahnya jg belum hilang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagaimana kabarnya ananda bun,,,,semoga ridak hal yang mengkhawatirkan ya...

      Hapus
  13. Ya alloh untung nemu ini..sekarang anak saya jg lg demam.demam 3 hari terus timbul bintik merah hampir diseluruh tubuh.tp setelah 2 hr gk demam kok sekarang demam lg..apa tidak apa2 ya?
    Bintik merahnya jg belum hilang..

    BalasHapus
  14. ijin berbagi info dengan pembaca blog ya bun.. jika ada yang terkena DBD cara menaikkan trombosit yg paling mudah dengan mengkonsumsi susu powermix sunhope

    BalasHapus
  15. seperti yg dialami anak saya alfatih (13m).
    sekarang alhamdulillaah sdh turun demamnya tinggal bercak merah di seluruh tubuhnya.
    btw, ijin share pngalaman ibu yaa ^_^
    terimakasih...

    BalasHapus
  16. Bunda...sy jg lg galau saat ini...anakku usia 1tahun dr kmren sore demam 39.4°...dan badannya jd kemerahan/ada bintik2 merah...krn tkt db /campak maka td sy lgsg k dokter lalu dicek darahnya...alhamdulillah hasilnya baik..,bukan db dab bukan campak...tp anakku dikasih obat penurun panas dan obat alergi cetirizin HCl..haruskah obatnya aq kasiin k anakku?ato tdk perlu..saat ini anakku msh demam naik turun....namun bedanya kasus dgn bunda yg lain,anakku badannya udh merah2 sejak hr pertama demam....mohon sharingnya bunda apa ada yg pernah mengalami kasusnya sama persis?terima kasih sebelumnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ananda selalu sehat ya bunda

      Hapus
  17. Anak saya jg mengalami hal yg sama dengan anaknya ibu fitria nurdianty, malah anak saya sdh di rawat di rmh sakit karena demamnya sudah lebih dri 5 hari, diagnosa dokter hanya faringitis, dan bercak merah yg timbul karena panasnya, dirawat 2 hari dan panasnya turun, dua hari kemudian timbul lg panas nya hingga hari ke 9 dri pertama demam, kita bingung sbenernya penyakitnya apa soalnya masih teuteup mau makan dan minum, mohon sharingnya

    BalasHapus
  18. Hadeuh bener2 .. Kejadiannya persis seperti anakku juna. Thanks mba infonya..

    BalasHapus
  19. Hadeuh bener2 .. Kejadiannya persis seperti anakku juna. Thanks mba infonya..

    BalasHapus